no klik kanan

Minggu, 20 Oktober 2013

Ical Ingin Gandeng Jokowi

Ruhut: Presiden Harus Orang Jawa!



Jakarta, KM
Calon pendamping Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie di pentas Pemilihan Presiden nanti mengerucut ke nama Joko Widodo, kader andalan PDIP. Ical kabarnya sangat menginginkan Jokowi sebagai Cawapresnya. Sayangnya PDIP dengan tegas menolak keinginan itu.
"Kita belum membicarakan capres, cawapres, apalagi koalisi, Belanda masih jauh," kata Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait kepada wartawan, Minggu (20/10).
Pada akhirnya, menurut Maruarar, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang berhak menentukan siapa capres dan cawapres PDIP. Karena itu kalau mau koalisi harusnya Ical mulai melobi Mega.
"Keputusan Kongres Partai menyerahkan kepada Ibu Mega," katanya.
Untuk saat ini PDIP sedang fokus menghadapi Pileg. Kalau hasilnya positif apalagi di atas Golkar, PDIP sudah tentu bakal mengusung capres.
"Apakah tokoh kami digadang-gadang jadi wapres atau bahkan presiden partai lain sebagai wacana ya silakan saja," tandasnya.
Sebelumnya Jubir Golkar Tantowi Yahya mengungkap 3 kandidat kuat cawapres Ical yakni Jokowi, Pramono Edhie Wibowo, dan Mahfud MD.
PD pun langsung merespons keras pernyataan Tantowi dan menyebut keinginan Ical hanya mimpi di siang bolong.
Bahkan tim sukses Prabowo Edhie, Ruhut Sitompul, secara tegas menyatakan tak terima wacana itu.
"Itu artinya Ical sudah tidak pede jadi capres kalau dia ingin Mas Edhie jadi cawapresnya. Berarti dia perlu orang yang mengamankan dia," kata Ruhut menanggapi hasrat Ical duet dengan Pramono Edhie yang dilontarkan Golkar.
Menurut Ruhut di Pilpres 2014 nanti masyarakat masih lebih memilih orang Jawa seperti Presiden RI yang sudah-sudah. Karena itu Pramono Edhie dipandang Ruhut lebih pantas nyapres ketimbang Ical.
"Jadi mereka yang nyapres itu nggak punya kaca di rumah, mereka harusnya tunggu Pemilu Legislatif. Masa kalau kita pemenang Mas Edhie cuma wapres, ingat pepatah Jawa 'ojo kesusu', Ical kan tidak tahu pepatah itu dia bukan orang Jawa. Presiden itu harus orang Jawa, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani," katanya.
Karena itu, Ruhut menyimpulkan, tak mungkin jagoannya cuma jadi wapres Ical. "Mimpi kali yee," tandasnya sembari tertawa.
Disisi lain, tingkat keterpilihan Jokowi tak berpengaruh terhadap elektabilitas PDI Perjuangan. Meski Jokowi santer disebut-sebut sebagai capres, dukungan suara terhadap PDIP tetap stabil.
Demikian dikatakan peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adji Alfaraby dalam paparan hasil survei yang digelar pada 12 September-5 Oktober 2013. Hasil survei dengan 1.200 responden menunjukan suara PDIP yang cenderung stabil dibanding survei LSI sebelumnya pada Maret 2013.
Pada survei Maret 2013, PDIP memperoleh dukungan 18,8 persen sedangkan hasil survei Oktober dukungannya 18,7 persen."Elektabilitas PDIP cenderung stabil," kata Adji di kantornya, Jalan Pemuda, Jaktim
Hasil ini menurut Adji menunjukkan Jokowi tidak berpengaruh pada elektabilitas PDIP. "Elektabilitas Jokowi tidak mampu dikonversi sebagai elektabilitas partai. Jokowi belum bisa mendongkrak suara PDIP karena asosiasi Jokowi terhadap PDIP masih lemah," tutur Adji.
Dalam surveinya, LSI juga tidak menyertakan Jokowi sebagai capres yang masuk dalam kuesioner karena belum ada keputusan resmi PDIP mencalonkan mantan Wali Kota Solo tersebut.
Megawati dimasukkan dalam survei karena memenuhi syarat indeks capres 2014 yang diformulasikan LSI yakni capres adalah pimpinan partai dan didukung elektabilitas tinggi.
Dua indeks itu yang juga jadi alasan memasukan nama Aburizal Bakrie sebagai capres. Sebab dari survei LSI, Golkar berada di urutan teratas dengan 20,4 persen dan Ical sudah ditetapkan secara resmi sebagai capres berlambang pohon beringin.
Mengenai adanya faksi di internal Golkar yang belum 100 persen menerima pencalonan Ical, Adji menyebut LSI tidak mempertimbangkannya. "Kelompok ini (faksi berbeda pendapat) kecil. Saya kira sulit pencalonan Ical dievaluasi karena dia ketum partai," ujar Adji.(dtc/vvn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar